HAJI PERJUANGAN
.
Saya namakan haji perjuangan sebagai pengganti melaksanakan haji dengan visa Ziarah karena tahun ini kondisinya sangat jauh berbeda dengan tahun kemarin. Jika tahun kemarin tidak ada razia, pemeriksaan kartu nusuk, bebas ke harom, dll maka tahun sekarang berbeda 180 derajat. Jadinya seru penuh perjuangan.
Terlepas diskusi tentang boleh tidaknya melaksanakan haji dengan visa ziarah atau tidak, yang jelas tahun ini saya melaksanakan haji dengan visa ziarah. Setelah sebelumnya menimbang dan melihat sekian banyak argumentasi dan dalil tentang boleh-tidaknya.
Alhamdulillah saya dan jamaah menjalani proses haji apa adanya. Tidak memalsukan dokumen, membuat IDCard palsu, dll. Apa adanya.
Proses pembuatan visa kami lakukan apa adanya. Saat wawancara pembuatan visa, sebelum petugas nanya-nanya, saya yang memulai banyak nanya.
Obrolan saya awali ketika saat sudah duduk di depan petugas visa, sayup-sayup terdengar musik klasik rock dari radio kecil milik petugas. Saya buka obrolan dengan menanyakan “Suka musik klasik rock ya?” Diapun jawab, “Iya.”
Dari sanalah obrolan lain saya lanjutkan. Mulai jam kerjanya. Beban pekerjaan dia yang sampai jam 2 pagi. Pernah ke Saudi atau tidak, dll. Obrolan sangat asik. Hingga akhirnya petugas bilang “Pak biaya pembuatan visanya sekian.” Sayapun mengeluarkan amplop dan membayarnya. Dan setelah itu selesai. Saya di beri dokumen untuk pengambilan paspor dan visa. Saya pun keluar ruangan.
Mungkin saya yang banyak bertanya sehingga petugas tidak sempat bertanya ke saya dengan pertanyaan menjebak, “Bapak mau hajian ya?”. Alhamdulillah. Saya terhindar dari kebohongan.
Demikian juga saat di imigrasi CGK, alhamdulillah tidak ada pertanyaan tentang tujuan mau kemana. Walau ada sedikit drama namun akhirnya lancar semuanya hingga bisa terbang ke Riyadh dan lanjut ke Madinah via pesawat. Yang awalnya mau pakai bis dan langsung ke Makkah.
Saat sampai bandara Madinah juga mudah. Karena domestik maka tidak ada pemeriksaan imigrasi, dll. Setelah ambil bagasi langsung meluncur ke luar bandara menuju bis dan langsung ke Madinah. Alhamdulillah.
Alhamdulillah, saya dan jamaah di Madinah menempati hotel Front Taiba. Bintang 5 deretan depan. Turun langsung pelataran Masjid Nabawi.
Selama 4 hari di Madinah dioptimalkan betul untuk ibadah, ziyarah baqi, napak tilas, city tour dan ke Raudhoh. Alhamdulillah semua tercapai.
Setelah 4 hari bergeser ke Makkah. Memang pakai bis. Rombongan besar ada 12 bis. 10 bis lolos. Yang 2 bis ke tahan di Jeddah. Rombongan bisa saya alhamdulillah lolos. Di setiap pemberhentian dan cek point polisi lancar semua. Polisi tidak masuk dan naik ke bis. Sehingga tidak bertanya-tanya ke kita-kita. Tidak lama setelah di periksa polisi langsung jalan. Begitu seterusnya saat melewati hampir 4 cek point. Alhamdulillah.
Tepat malam, sudah sampai di Makkah. Langsung menuju hotel transit untuk melepas penat sebentar dan bersih diri. Setelah siap, sebelum shubuh berangkat ke Haram untuk melaksanakan Umrah wajib sekaligus pindah hotel disekitar Masjidil Haram.
Alhamdulillah sudah dapat di Makkah Tower. 0 km. Jadi enak dan nyaman. Alhamdulillah, sebelum berangkat dari hotel transit sudah dapat konfirmasi kalau kamar di Makkah Tower sudah ready. Tinggal masuk saja. Sebelum melaksanakan umrah, barang-barang di taruh di kamar terlebih dahulu. Di Makkah Tower booking 3 hari.
Atas pertimbangan kenyamanan dan optimalisaai ibadah maka kami putuskan untuk nambah hari. Rencananya 5 hari lagi. Namun ternyata hanya dapat nambah 2 hari saja. Itupun pindah ke villa hilton. Alhamdulillah. Tidak mengapa. Benar-benar waktu yang ada dioptimalkan untuk ibadah.
Setelah puas di hotel seputar masjidil haram, kami pun bergeser ke hotel transit di area Sisya. Dan alhandulillah tsumma alhamdulillah tidak pernah di razia oleh polisi. Jadi tenang dan nyaman saja. Yang di Razia itu kanan-kiri dan depan-belakang hotel kita. Sekali razia yang di angkut 2 bis. Kisaran 90 orang. Namun agak jauh sedikit dari hotel yang terkena razia hingga 300 orang. Ada 8 bis yang ngangkut. Sekali lagi alhamdulillah hotel tidak pernah kena razia.
Kegiatan dioptimalkan di hotel transit sambil menunggu wukuf di Arofah yang tinggal beberapa hari.
Planning awal kami, saat wukuf di Arofah pakai tenda. Agar lebih optimal dalam ibadah dan doa.
Sayapun melakukan ikhtiyar seoptimalnya. Jauh-jauh sudah mempersiapkan. Menghubungi orang-orang yang terpercaya bisa mengurus Maktab Arofah.
Sepengetahuan saya, maktab saat di Arofah itu ada 2 tipe. Pertama: maktab resmi untuk jamaah haji. Baik untuk orang luar saudi maupun “penduduk” Saudi. Tenda arofah semuanya buat jamaah haji.
Kedua: Tenda maktab lebihan. Kok lebihan? Ya. Karena tendanya berlebih atau yang ngisi kurang jadi di jual.
Konon, contoh kasusnya adalah ketika ada satu syarikah yang dapat tender buat tenda Arofah 10 buah. Dia kemudian membuat 12 buah. Nah, yang 10 buah buat yang resmi. Sedangkan yang 2 buah tenda ini yang kemudian di jual bebas.
Atau konon ada tenda jamaah dari jamaah haji negara mana yang masih ada yang kosong hingga hari-hari terakhir pelaksanaan wukuf Arofah. Maka tenda yang kosong inilah yang kemudian di jual bebas.
Alhamdulillah, saya dan jamaah dapat rizki bisa beli tenda bertasreh dari jamaah LN yang kosong.
Jangan di tanya apakah dapat smart card dan nusuk. Visa ziarah sudah dipastikan tidak dapat smart card dan nusuk. 2 benda itu khusus untuk yang pegang visa haji. Jika ada yang pakai smart card dan kartu nusuk, bisa dipastikan palsu alias bodong.
Walau palsu ternyata banyak juga yang beli. Dah gitu mahal harganya lagi. Awal-awal nembus 1.500 SAR. Tapi terakhir-terakhir di jual 300 SAR saja.
Jadi saya dan jamaah tidak dapat smart card dan nusuk. Terus bagaimana cara agar bisa masuk Arofah? Bukannya nanti akan di cek?
Di cek satu persatu orabg jelas tidak mungkin. Jutaan orang yang menuju Arofah. Jika di cek satu-satu maka 3 hari juga tidak selesai. Jadi mustahil di cek satu-satu. Olehnya itu pelaksanaan pengecekan dengan lihat stiker per bis. Setiap bis yang di stiker pintunya dengan stiker khusus maka dia yang boleh masuk Arofah. Namun jika tidak ada stikernya atau stikernya palsu maka akan di tolak masuk.
Saya dan jamaah prosesnya begitu. Ada petugas dari maktab yang datang ke hotel transit bersama bis. Setelah semua masuk maka petigas maktab tersebut mesegel pintu bis dengan stiker. Lalu jalan menuju Arofah.
Karena dikawal langsung oleh petugas maktab dan di segel dengan stiker resmi maka perjalanan bis saya dan jamaah menuju arofah dan masuk tenda maktb berjalan dengan baik.
Alhamdulillah masuk maktab. Dapat tempat tidur, makan, minum dan banyak lagi. Alhamdulillah bisa tenang berdoa dan berdzikir di tenda. Terhindar dari terik matahari yang begitu menyengat.
Menjelang maghrib bergerak ke Musdalifah. Nginap sebentar di sana. Dan selanjutnya lanjut ke Masjidil Haram untuk Thawaf ifadhoh dulu. Baru setelah selesai lempar jumrah aqobah. Tanggal 10 Dzulqa’dah semua selesai. Tinggal mabit di mina dan lempar jumrah di hari tasyri’.
Alhamdulillah, proses pelaksanaan haji saya dan jamaah berjalan lancar. Semua bisa terlaksana dengan baik. Semoga menjadi haji mabrur. Aamiin.
Naaah… Setelah hajian, banyak yang bertanya ke saya, apakah merekomendasikan sahabat dan handai tolan hajian dengan visa ziyarah untuk tahun depan? Saya sangat tidak merekomendasikan. Demikian juga yang disampaikan oleh kawan-kawan yang lain. Baik dia sebagai jamaah ataupun para penyelenggara haji visa ziyarah. Sangat tidak merekomendasikan.
Kenapa? Yang jelas rasa nyaman dan tenang dalam beribadah tidak di dapat. Yang ada rasa khawatir terus menghantui. Jangan-jangan polisi merazia hotel tempat tinggal. Jangan-jangan pas ke haram di cegat dan di tanya nusuk. Jangan-jangan dan banyak jangan-jangan. Faktanya banyak yang kena razia. Habis itu di bawa ke luar makkah. Dan di tinggal. Walaupun “lucunya” dibiarkan kembali lagi masuk ke Makkah. Cuma mental sudah “down” akibat di gedor pintu kamar oleh polisi dan di giring masuk bis yang disediakan polisi untuk di bawa ke luar makkah. Kondisi inilah yang membuat mental jamaah down. Sehingga timbul rasa takut, khawatir, dll.
Walhasil jamaah “dikurung” di kamar hotel masing-masing. Jendela hotel di tutup rapat-rapat. Lampu dimatikan atau dikurangi cahayanya. Intinya redup. AC di ruang-ruang bersama dimatikan. Jadi benar2 menegangkan. Kondisi ini yang semakin membuat rasa jamaah semakin tertekan.
Jamaah pun tidak bisa bebas bolak-balik ke masjidil haram. Karena jalan-jalan menuju Haram diawasi oleh polisi. Polisi sering random checking ke jamaah, apakah pakai nusuk atau tidak.
Dari semua sikon di atas maka saya sangat tidak merekomendasikan hajian dengan visa haji ziarah atau multiple lainnya. Sangat tidak nyaman. Pakai visa haji saja. Bisa daftar haji reguler, ONH plus, furoda dan haji dakhili/ekspatriat.
Walau saya dan jamaah, dalam pelaksanaan hajian kemarin dimudahkan oleh Allah SWT. Namun itu pencilan. Sebab faktanya banyak yang “bermasalah” daripada yang mulus.
Semoga sahabat semua yang membaca tulisan saya ini dimudahkan dan disegerakan berangkat haji dengan pasangannya. Dicukupkan rizkinya untuk biaya, uang saku dan uang buat yabg di rumah saat hajian. Aamiin.
Sumber : facebook.com/gus.uwik.1