Khutbah Iedul Adha

Allâhu Akbar 3X wa lil-Lâh al-hamd,

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh

Segala pujian milik Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Tuhan Yang telah menghantarkan kita pada hari yang penuh dengan keagungan. Inilah Yawm an-Nahar. Hari Raya Kurban. Inilah hari saat kaum Muslim diperintahkan untuk menunaikan shalat Idul Adha, menggemakan kalimat takbir dan melaksanakan ibadah kurban.

Karena itu berbahagialah. Sungguh, inilah hari yang penuh kemuliaan dari Allah Pencipta alam. Inilah salah satu dari dua hari terbaik untuk semua insan yang beriman. Inilah hari yang agung. Keagungan Hari Raya Kurban ini disabdakan langsung oleh Baginda Nabi saw.:

 

أَعظمُ الأيَّامِ عِنْدَ اللَهِ يَوْمُ النَّحْرِ

Hari yang paling agung di sisi Allah adalah Hari Raya Kurban (HR Abu Dawud).

 

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Hari ini, lebih dari tiga juta kaum Muslim dari segenap penjuru dunia, berkumpul di Tanah Suci. Tentu untuk melaksanakan perintah berhaji. Lisan mereka selalu basah dengan rangkaian doa dan kalimat talbiyah: “Labayk AlLaahumma labayk”. Adapun jiwa dan raga mereka tunduk pada Rabb Ka’bah untuk melaksanakan ibadah.

Sudah seharusnya kaum Muslim bersatu dalam pelaksanan Idul Adha sebagaimana bersatu dalam pelaksanaan ibadah haji. Di mana-mana kalimat takbir, tahlil dan tahmid berkumandang tiada henti. Semesta berguncang karena gema talbiyah di segenap penjuru bumi. Demikianlah seperti yang pernah terjadi pada masa Nabi saw., Khulafa ar-Rasyidin serta generasi terbaik umat ini. Alangkah indahnya jika persatuan umat ini kembali terwujud hari ini. Mereka bersatu tanpa dibatasi oleh suku, bangsa, bahasa dan batas-batas negeri. Dengan begitu akan terwujud ukhuwah islamiyah yang sejati dan persatuan umat yang hakiki.

 

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Setiap kali perayaan Hari Raya Kurban, kita selalu diingatkan dengan keteladanan KhalilulLaah Nabi Ibrahim as. dan keluarganya. Tentu karena begitu besarnya keteladanan mereka sehingga Allah SWT pun memuji mereka. Allah SWT berfirman:

 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُو اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan keluarganya) ada teladan yang baik bagi kalian; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Akhir. Siapa saja yang berpaling, sungguh Allah, Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji (TQS al-Mumtahanah [60]: 6).

 

Nabi Ibrahim as. adalah sosok hamba Allah yang menghabiskan seluruh hidupnya dalam perjuangan di jalan-Nya. Ia menegakkan kalimat tauhid secara nyata. Ia menentang keyakinan dan pemahaman batil kaumnya. Hal itu ia sampaikan secara terbuka. Ia tak pernah menutup-nutupi kebenaran yang memang seharusnya ia nyatakan. Allah SWT berfirman:

 

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ (٥٢) قَالُواْ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَٰبِدِينَ (٥٣) قَالَ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ (٥٤)

(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini, yang kalian kelilingi (dengan penuh penghormatan)?” Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembah patung-patung ini.” Ibrahim berkata, “Sungguh kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata!” (TQS al-Anbiya’ [20]: 52-54).

 

Nabi Ibrahim as. sanggup berhadapan dengan penguasa kufur dan zalim. Ia menyampaikan dakwah tauhid ini secara terbuka dan terangan-terangan. Padahal risiko yang ia hadapi amatlah besar. Namun, Allah SWT senantiasa menolong hamba-Nya yang beriman dan senantiasa bersabar. Demikian sebagaimana firman-Nya:

 

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ (٦٨) قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ (٦٩)

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman, “Hai api! Jadilah engkau dingin dan selamatkanlah Ibrahim!” (TQS al-Anbiya’ [20]: 68-69).

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Nabiyullah Ibrahim as. juga memberikan keteladanan berupa ketaatan kepada Allah tanpa keraguan. Ketika Allah SWT memerintahkan dirinya untuk meninggalkan sanak-keluarganya di negeri yang kering dan tandus, maka perintah itu ia laksanakan tanpa kebimbangan. Pada saat itu istrinya, Hajar, bertanya tentang tindakan suaminya, “Ibrahim, ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tanpa apa pun?” Ia mengulangi pertanyaannya berkali-kali. Namun, Ibrahim as. tidak menoleh kepada istrinya itu. Akhirnya, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?” Ibrahim as. baru menjawab, “Ya.” Mendengar jawaban itu, Hajar pun berkata, “Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Setelah itu Nabi Ibrahim as. berdoa sambil mengangkat tangannya:

 

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (٣٧)

Wahai Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tandus, dekat rumah-Mu yang suci, wahai Tuhan kami, agar mereka melaksanakan shalat. Karena itu jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur (TQS Ibrahim [14]: 37).

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Puncak ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as. adalah ketika Allah SWT memerintahkan penyembelihan putra tercintanya, Ismail as. Namun, dengan keyakinan dan keikhlasan, Nabi Ibrahim as. dan Ismail as. melaksanakan perintah Allah tersebut tanpa sedikut pun kebimbangan. Karena itu Allah pun membalas pengorbanan mereka dengan penuh penghargaan. Demikian sebagaimana firman-Nya:

 

قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ (١٠٥) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ (١٠٦)

Sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata (TQS ash-Shaffat [37]: 105-106).

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim as., maka setiap Muslim yang mengharapkan ridha Allah SWT seharusnya mengerahkan ketaatan penuh kepada Allah SWT. Ia akan berusaha untuk bersungguh-sungguh menjalankan seluruh perintah Rabb-nya. Tak akan memisahkan satu hukum Allah dengan satu hukum-Nya yang lain. Tak akan pula mengunggulkan satu hukum Allah di atas hukum-Nya yang lain. Sebabnya, ia ingat dengan firman Allah SWT:

 

أَفَتُؤۡمِنُونَ بِبَعۡضِ ٱلۡكِتَٰبِ وَتَكۡفُرُونَ بِبَعۡضٖۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفۡعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمۡ إِلَّا خِزۡيٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلۡعَذَابِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ (85)

Apakah kalian mengimani sebagian al-Kitab dan mengingkari sebagian lainnya? Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Kiamat mereka dikembalikan pada siksaan yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat (TQS al-Baqarah [2]: 85).

 

Karena itu apa alasan yang akan disampaikan di akhirat di hadapan Allah SWT ketika seorang Muslim membatasi ketaatan hanya pada ibadah atau aspek ahlak saja? Atau hanya dalam urusan muamalah saja? Pada saat yang sama ia menolak untuk menaati hukum-hukum Allah yang lain? Ia menolak syariah Allah dalam bidang ekonomi, politik, hukum, pemerintahan, jihad dll? Mengapa kaum Muslim begitu sempurna melaksanakan hukum pengurusan jenazah, misalnya, tetapi berani mengabaikan aturan Islam dalam kehidupan? Seolah-olah aturan agama ini ditujukan hanya untuk mengurus orang mati saja.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Ketaatan kita kepada Allah tak akan sempurna tanpa perjuangan menegakkan agama-Nya. Demikian sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim as. Ia tak pernah berhenti berjuang menegakkan kalimatulLaah sekalipun berhadapan dengan kekuasaan zalim. Ia pun tidak menyembunyikan dakwah dan kebenaran yang ia emban. Secara terbuka ia menyampaikan dakwah kepada kaumnya, termasuk kepada para penguasa tiran.

Ketaatan kepada Allah jelas membutuhkan pengorbanan. Semata-mata demi kemuliaan Islam. Demikianlah seperti Nabi Ibrahim as. yang rela berpisah dengan keluarganya. Bahkan ia rela mengorbankan putranya di jalan Allah SWT.

Sejarah juga mencatat bagaimana para Sahabat Rasulullah saw. berlomba-lomba berkorban dalam perjuangan menegakkan Islam. Mereka mengorbankan harta bahkan jiwa dan raga mereka di jalan Allah dengan penuh kerelaan. Sungguh mereka telah berjual-beli dengan Allah SWT dengan penuh kesungguhan. Demikian sebagaimana yang Allah firmankan:

 

إِنَّ ٱللَّهَ ‌ٱشۡتَرَىٰ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَنفُسَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلۡجَنَّةَۚ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقۡتُلُونَ وَيُقۡتَلُونَۖ (111)

Sungguh Allah telah membeli dari kaum Mukmin diri dan harta mereka dengan bayaran surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh (TQS at-Taubah [9]: 111).

 

Demikian tingginya semangat perjuangan dan pengorbanan kaum Muslim pada masa Nabi saw., sampai diriwayatkan pada Perang Tabuk para Sahabat Rasulullah saw. yang dhuafa menangis bercucuran air mata karena tidak bisa ikut serta dalam peperangan karena ketiadaan harta sebagai perbekalan.

 

اَللهُ أَكْبَرُ،اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Betapa sering kita membatasi diri dalam amal dan pengorbanan, lalu merasa puas dengan apa yang telah kita lakukan. Diri ini enggan berjuang dan berkorban saat dirasa akan merugikan harta, kedudukan atau keluarga. Sungguh ironis. Kita mengklaim cinta pada agama, tetapi enggan berjuang dan berkorban dengan pengorbanan terbaik dan terbesar untuk kemuliaan agama kita.

Ada orang yang mau berjuang dan berkorban untuk peribadatan, tetapi enggan berjuang dan berkorban demi tegaknya kehidupan Islam, melalui penegakan hukum-hukum Allah dalam naungan Khilafah Islam. Padahal perkara itu dinamakan oleh para ulama sebagai taaj al-furuudh atau mahkota kewajiban agama. Akibat ketiadaan kehidupan Islam di bawah naungan Khilafah Islam, umat merasakan derita luar biasa. Kriminalitas merajalela. Premanisme berkuasa. Korupsi makin menggila. Sumberdaya alam dikuasai oleh pihak swasta dan asing secara semena-mena. Bahkan umat saat ini kesulitan walau untuk sekadar mendapatkan jaminan makanan halal saja.

Sebab itu, seharusnya firman Allah SWT dalam ayat di atas menampar kita. Dimanakah letak pengorbanan kita untuk agama kita tercinta? Pantaskah kita mendapat kedudukan orang bertakwa? Atau jangan-jangan kita tergolong kaum yang fasik secara nyata? Allah SWT berfirman:

 

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ ‌تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian sukai itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya. Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik.” (TQS at-Taubah [9]: 24).

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدُ

Ma’âsyiral-Muslimîn rahimakumulLâh,

Di tengah perayaan Idul Adha ini, kita juga masih terus menyaksikan penderitaan saudara seiman di Gaza. Militer Yahudi masih terus melakukan genosida terhadap mereka. Diperkirakan hari ini jumlah korban meninggal mencapai 54 ribu jiwa. Saat ini juga ada hampir dua juta penduduk Gaza berada dalam kelaparan akibat blokade oleh kaum zionis Yahudi secara membabi-buta.

Namun, yang paling memilukan, Dunia Islam hanya menjadi penonton. Tak ada satu pun penguasa negeri Muslim yang tergerak memberikan pertolongan. Sebaliknya, sejumlah pemimpin Arab justru mengirimkan uang setara ribuan triliun rupiah ke negeri penyokong zionis Yahudi, yakni Amerika Serikat. Para pemimpin Dunia Islam sengaja mengabaikan panggilan jihad demi mengusir para penjajah dari tanah air mereka. Padahal Allah SWT telah memerintahkan mereka:

 

وَاقۡتُلُوۡهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوۡهُمۡ وَاَخۡرِجُوۡهُمۡ مِّنۡ حَيۡثُ اَخۡرَجُوۡكُمۡ‌ وَالۡفِتۡنَةُ اَشَدُّ مِنَ الۡقَتۡلِۚ

Bunuhlah mereka di mana saja kalian temui mereka dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kalian. Fitnah (kekufuran/kemusyrikan) itu lebih kejam daripada pembunuhan (TQS al-Baqarah [2]: 191).

 

Para pemimpin Dunia Islam, terutama para penguasa Arab, masih bersemangat menggelar ibadah haji. Namun, mereka enggan berjihad membebaskan Gaza dan mengusir kaum Yahudi. Padahal kewajiban jihad itu telah nyata dan telah diserukan tanpa henti.

Sebab itu, semakin nyata bahwa umat ini membutuhkan institusi pemerintahan Islam global. Itulah Khilafah Islam. Khilafah inilah yang akan melanjutkan kehidupan Islam. Khilafah inilah yang akan menegakkan hukum-hukum Allah dan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Khilafah ini pula yang akan menyatukan umat Islam di seluruh dunia. Di dalam naungan Khilafahlah umat Islam sedunia akan bahu-membahu dan tolong-menolong di antara sesama mereka. Di bawah satu kepemimpinan global, Khilafah Islam, umat Islam sedunia akan sanggup membebaskan diri mereka dan saudara-saudara mereka dari segala derita akibat penjajahan bangsa-bangsa lain. Semua ini sebagai wujud nyata dari pelaksanaan sabda Baginda Rasulullah saw.:

 

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang Mukmin dengan Mukmin lainnya seperti satu bangunan. Sebagiannya menguatkan sebagian yang

lain (HR Muslim).

 

اللهُ أكْبَرُ، اللهُ أكْبَرُ، االلهُ أكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ

Scroll to Top
× Hubungi kami